Rss Feed Facebook Twitter Google Plus

post:


Showing posts with label agribisnis. Show all posts
Showing posts with label agribisnis. Show all posts

Budidaya kacang tanah

Kacang tanah merupakan komoditas pangan yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi. Ada banyak makanan olahan kacang tanah. Selain buat bahan sayuran, juga banyak diolah menjadi camilan maupun produk selai untuk teman menyantap roti.

Lantaran banyak manfaatnya, permintaan kacang tanah tinggi di pasaran. Itu juga yang mendorong banyak petani tertarik mengembangkan komoditas ini. Apalagi budidayanya juga mudah.
Salah satu petani kacang tanah adalah Imam Wahyu, di Bojonegoro, Jawa Timur. Di daerah Imam ini memang banyak penghasil palawija jenis kacang-kacangan. Ia sendiri sudah menanam kacang tanah sejak tahun 1990. Selain kacang tanah, Imam menanam komoditas lain, seperti jagung, gaplek, dan kacang hijau.

Imam menanam kacang tanah di lahan seluas 3.000 meter persegi (m²). "Kacang tanah ini tanaman sela, jadi setelah panen tanaman palawija lain, kacang tanah bisa ditanam kapan saja dan dimana saja," katanya.

Bibit kacang tanah awalnya ia peroleh dari tengkulak di Tuban. Sekarang semua bibit ia dapatkan sendiri dari sisa hasil panen. Kacang tanah yang dikembangkannya jenis brul dengan masa panen tiga bulan. Sementara varietas kacang tanah jenis lain, seperti cina dan holle bisa memakan waktu delapan bulan. "Harga kacang jenis brul juga lebih stabil di pasaran," kata Imam.

Umumnya kata Imam setiap 1 hektare (ha) lahan bisa menghasilkan 2 ton kacang tanah. Karena lahannya hanya 3.000 m², sekali panen ia hanya menghasilkan 5-6 kwintal kacang tanah.
Omzet yang ia dapat bisa sampai Rp 10 juta sekali panen. Menurutnya, komoditas ini menguntungkan karena semua hasil panen tidak ada yang dibuang. Selain bijinya, ampasnya juga laku dibuat minyak dan fermentasi oncom.

Bahkan setelah panen pun, daunnya juga tidak dibuang karena bisa menjadi sayuran, bahan pakan ternak, dan pupuk hijau. Harga kacang tanah sendiri berkisar antara Rp 5.000–Rp 9.000 per kg.
Petani lainnya adalah Rahmat Widodo asal Madiun. Rahmat sudah menjadi petani kacang tanah sejak tahun 2005. Rahmat mengakui komoditas ini memiliki prospek bisnis yang bagus, sehingga hasil tanamnnya selalu menguntungkan.

Ia menanam kacang tanah di lahan seluas 1 ha. Selain kacang tanah, lahan itu juga dipakai buat menanam komoditas lain seperti padi dan kacang kedelai. "Biasannya budidaya kacang dilakukan setelah panen padi," katanya.

Dari lahan seluas 1 ha itu, ia Rahmat bisa menghasilkan 1 ton–1,5 ton kacang sekali panen, dengan omzet Rp 50 juta. Dalam setahun ia bisa empat kali panen.   

Di Indonesia, kacang tanah (Arachis hypogea) termasuk tanaman yang paling banyak dikembangkan setelah komoditas lain, seperti  padi, jagung, dan kacang kedelai. Masifnya penanaman kacang tanah ini tak lepas dari tingginya permintaan akan komoditas ini di pasaran.

Di tambah proses budidayanya juga tidak sulit. "Budidayanya tergolong mudah dan murah," kata Imam Wahyu, petani asal Bojonegoro, Jawa Timur.

Menurut Imam, produksi tanaman kacang tanah sangat dipengaruhi faktor musim.  Di musim penghujan, jangan berharap bisa mendapat hasil panen banyak. Kecenderungannya, kata Imam, hasil panen di musim hujan menurun.

Curah hujan tinggi membuat akar tanaman terlalu lembab, bunga sulit diserbuki, dan rentan ditumbuhi jamur. Mengatasai itu bisa dengan membuat bedengan agar lahan tak digenangi air.

Namun jika sedang musim panas dan sinar matahari banyak, maka hasil panen bisa maksimal. Kendati demikian, tanaman tetap harus dirawat. Untuk mendapat hasil maksimal, Imam harus menggemburkan tanah hingga menjadi butiran halus dengan cara dibajak.

Setelah itu menambahkan kapur sebanyak 1 ton dan didiamkan selama dua hari. Baru kemudian diberi pupuk kandang atau pupuk kompos. Diperlukan 20 kilogram (kg) bibit untuk lahan seluas 3.000 meter persegi (m²).  Bibit bisa didapatkan dari biji kacang yang dibiarkan sampai tua.

Bibit yang baik memiliki ciri warna kehitaman dan tidak memiliki cangkang. Sebelum ditanam, bibit dijemur selama empat hari. Setelah ditanam, siram setiap pagi dan sore.

Kacang tanah mulai berkecambah setelah tujuh hari sejak ditanam. Menurut Imam, dalam budidya tanaman ini, kondisi tanah harus benar-benar diperhatikan. Tanah tidak boleh lembab dan tidak boleh terlalu kering juga. Saat musim kemarau tetap harus disiram dua kali sehari. Tapi bila musim hujan upayakan tanah tidak becek.

Jika tidak diperhatikan, hama seperti ulat penggulung daun, ulat grayak, dan ulat jengkal mudah menggerogoti daun. Batang juga menjadi layu dan mudah terkena bercak daun. Bila sudah terserang hama, tanaman harus dicabut untuk menjaga kualitas tanaman lain.

Rahmat, petani lainnya menambahkan, kacang tanah ideal di tanam pada ketinggian tanah 50-500 meter dari permukaan laut dan jenis tanah harus gembur.

Agar tumbuh maksimal, jarak antar lubang dibuat 25x25 sentimeter (cm).
Saat kecambah sudah keluar, lakukan penyiraman dua minggu sekali. Selain itu, harus rajin membersihkan rumput liar. Untuk menghindari hama, usia 30 hari, tanaman harus divaksin.   
Read more

BUDIDAYA ULAT JERMAN

Bagi mereka yang hobi memelihara burung kicau tentu sudah tak asing dengan ulat Jerman. Jenis ulat ini sudah biasa menjadi pakan tambahan untuk menambah stamina burung agar semakin rajin berkicau.

Tak heran bila permintaan ulat ini tinggi di pasaran. Itu juga yang mendorong banyak orang tertarik membiakkan ulat ini. Salah satunya adalah Susanti asal Medan, Sumatera Utara.

Ia  mengaku, tertarik membiakkan ulat Jerman  karena permintaannya tinggi dan belum banyak peternak membiakkan ulat ini.Perempuan yang lebih akrab disapa Santi ini mengaku baru membiakkan ulat ini setahun lalu. "Saya dapat indukannya dari seorang teman," katanya.

Saat ini, Santi mempunyai sekitar 15 kilogram (Kg) ulat Jerman yang ditempatkan dalam kotak kayu. Karena tingginya permintaan, ia mengaku tidak kesulitan memasarkan ulat tersebut.

Kebanyakan konsumennya masih di sekitar Medan. Santi menjual ulat peliharaannya seharga Rp 90.000–Rp 100.000 per kg. Dalam sebulan ia bisa menjual 10 kg ulat Jerman. Bila dihitung total penjualan dalam satu bulan sekitar Rp 1 juta.

Kendati omzetnya masih kecil, keuntungan bersih yang didapatnya cukup besar, mencapai 70% dari omzet. "Cara pembudidayaannya mudah dan cukup murah," ujarnya.

Pemain lainnya adalah Rakhmat Hidayat. Pria asal Bogor ini mulai mengembangkan ulat Jerman sejak tahun 2010, dengan modal awal Rp 5 juta.

Modal sebesar itu dipakainya buat  membeli bibit sebanyak 30 kg, rak, baki, dan beberapa botol bekas yakult. Sayangnya, usahanya tidak berjalan lancar. Ulat peliharaannya sempat terkena hama sampai membuatnya harus menutup usahanya.

Namun di tahun 2014, laki-laki yang akrab disapa Rakhmat ini kembali mencoba beternak ulat Jerman. Saat ini, jumlah ulatnya berjumlah sekitar 100 kg. Rakhmat membanderol harga ulat Jermannya sebesar Rp 25.000–Rp 35.000 per kg, tergantung kondisi pasar.

"Kalau stok di pasaran sedang banyak, harganya Rp 25.000. Kalau lagi sedikit, harga otomatis naik sampai Rp 35.000," jelas Rakhmat. Ulat-ulat jerman miliknya panen setiap tiga minggu sekali. Sekali panen bisa mencapai 100kg–200 kg. Semua ulat tersebut selalu habis terjual.

Dengan penjualan sebanyak itu, ia ia dapat meraup omzet Rp 4 juta–Rp 5 juta dalam sebulan. Ada pun  keuntungan bersihnya sampai 50%. Kebanyakan konsumennya berasal dari Sukabumi dan Jakarta. Untuk wilayah Sukabumi, ia memiliki pelanggan peternak ikan arwana. Adapun langganannya di Jakarta adalah pedagang Pasar Burung Pramuka.         

Ulat jerman termasuk salah satu pakan favorit burung kicau. Permintaan yang tinggi membuat budidaya ulat ini semakin menjanjikan. Menariknya, pembiakan ulat ini juga relatif gampang.

Susanti, peternak ulat jerman asal Medan, Sumatera Utara bilang, proses pembiakan ulat jerman dapat dilakukan dengan indukan. Untuk medianya bisa memakai kotak kayu. Langkah pertama masukkan indukan ke dalam kotak. Indukan yang sudah berumur satu bulan sudah siap bertelur. “Setelah bertelur indukan akan mati,” jelasnya pada KONTAN.

Masa perubahan telur menjadi larva biasanya mencapai dua minggu. Usia larva menjadi dewasa atau siap panen membutuhkan waktu dua hingga tiga bulan. Saat itu, baiknya larva diberikan pakan dua kali sehari berupa kulit semangka dan gandum.

Agar terhindar dari hama, seminggu sekali kandang harus dibersihkan dan dijemur di bawah sinar Matahari. Susanti mengingatkan, indukan dan larva harus ditempatkan di dalam suhu kamar sehingga tetap kering.

Peternak lainnya, Rakhmat Ramadhan, asal Bogor mengakui, penangkaran ulat jerman tidak sulit. Bukan hanya prosesnya, alat-alat yang diperlukan buat penangkaran juga tergolong sederhana. Peralatan yang dibutuhkan berupa rak, baki, botol bekas yakult, dan bibit sebanyak 30 kilogram (kg). Bibit sebanyak itu bisa menghasilkan 100 kg ulat jerman per bulannya.

Menurut Rakhmat, pemilihan induk harus selektif. Yakni, tidak lebih dari 2 kg agar ukuran ulat yang menjadi kepompong bisa besar. “Nantinya ulat-ulat itu akan menjadi kepompong sekitar tujuh sampai sepuluh hari,” tutur Rakhmat.

Setelah menjadi kepompong, dilakukan proses pengambilan kepompong selama tiga hari sekali. Proses pengambilan harus hati-hati agar kepompong tidak lecet atau cacat. Bila lecet, kepompong bisa mati karena membusuk.

Kepompong yang diambil juga tidak sembarangan. Yakni, kepompong berwarna putih kecoklatan. Nantinya, kepompong yang sudah dipilih diletakkan di dalam kotak yang diberi alas koran. Di atas alas koran itu, kepompong disebar sedemikian rupa agar tak bertumpuk di satu tempat. Setelah itu kotak ditutup rapat dengan kertas koran.

Biasanya waktu yang dibutuhkan kepompong berubah menjadi kumbang sekitar 10 hari. “Setelah menjadi kumbang, perhatikan warna sayapnya. Jika sudah hitam mengkilat baru diambil,” jelas Rakhmat.

Kumbang masih belum bisa diambil jika warnanya masih kecoklatan, sehingga harus menunggu sampai warna sayapnya hitam. Itu adalah pertanda bahwa kumbang sudah siap bertelur. Kumbang yang sudah siap bertelur ditaruh di kotak baru atau peti yang dialasi dengan kapas, jumlahnya bisa 250 gram per kotak.

Biarkan pembibitan ini selama tujuh hari. Setelah itu, setiap kapas yang ada telurnya ditaruh di kotak terpisah. “Telur mulai menetas setelah usia 30 hari, setelah itu baru dipisahkan dari kapasnya,” ujarnya.   
Read more

Budidaya Jangkrik


Sekarang ini memang budidaya atau ternak jangkrik sudah menjadi salah satu bisnis yang sangat menjanjikan. Apalagi banyak orang rela merogoh kocek nya hanya untuk membeli jangkrik karena kebutuhan hobi mereka memelihara burung.

Bagi Anda yang ingin memulai bisnis tidak ada salahnya untuk mencoba peruntungan dibidang ternak jangkrik, karena semakin banyaknya masyarakat yang mencari jangkrik untuk keperluan pakan burung. Selain itu permintaan akan ketersediaan jangkrik tiap tahun semakin meningkat dan kini jangkrik sudah menjadi salah satu komoditi ekspor yang layak untuk diperhitungkan.


Secara umum untuk memproduksi jangkrik untuk keperluan pakan ikan dan pakan burung memerlukan waktu hanya sekitar 2-3 bulan. Jangkrik betina memiliki siklus hidup kurang lebih 3 bulan dan untuk jangkrik pejantan sekitar kurang dari 3 bulan. Pada fase hidupnya jangkrik betina bisa memproduksi hingga lebih dari 500 butir telur.

Di Indonesa terdapat lebih dari 1000 macam varietas jangkrik, varietas jangkrik yang sering dibudidayakan oleh petani sekarang ini yaitu Gryllus Mitratus dan Gryllus testaclus yang digunakan sebagai pakan ikan dan burung..Kedua jenis jangkrik ini dapat Anda bedakan dari melihat bentuk tubuhnya, untuk jenis Gryllus Mitratus wipositor kelihatan lebih pendek dan memiliki garis putih pada sayap punggung bagian pinggir serta tampilannya lebih tenang.

Manfaat Jangkrik Untuk Kesehatan

Tahukah Anda jika jangkrik memiliki banyak manfaat untuk kesehatan, ternyata serangga ini memiliki banyak kandungan seperti asam amino protein serta asam lemak esensial. Protein pada jangkrik berdiri dari protein omega 9, omega 6, dan omega 3. Menurut pakar gizi kandungan protein pada jangkrik 3 kali lipat dari kandungan protein pada daging sapi, daging ayam, dan udang. Luar biasa sekali bukan?

Kandungan protein pada jangkrik dapat berfungsi sebagai antioksidan yang bisa mencegah penyumbatan dan penyempitan pembuluh pembuluh darah. Selain itu asam amino berfungsi untuk menjaga elastisitas persendian tulang, kornea mata, dan sel kulit serta bisa menghambat penuaan dan penyakit katarak. Omega 3 pada jangkrik sangat baik dikonsumsi oleh bayi atau anak anak pada masa pertumbuhan. Manfaat lain dari jangkrik untuk orang dewasa yang mempunyai permasalahan seksual, jangkrik ini bisa menjadi solusi membantu meningkatkan vitalitas untuk pria maupun wanita.

Persyaratan Lokasi Ternak

Dalam budidaya ternak jangkrik, Anda perlu memperhatikan beberapa aspek lokasi diantaranya kondisinya harus tenang, tidak terkena cahaya matahari secara langsung, dan usahakan kondisi sirkulasi udara baik. Sebaiknya untuk pemilihan lokasi ternak jangrik, jauhkan dari sumber-sumber kebisingan semacam jalan raya, pasar dan lain sebagainya

Langkah-langkah ternak jangkrik

Dalam beternak jangkrik, Anda harus memperhitungkan beberapa hal secara matang supaya meminimalkan kerugian usaha. Berikut ini kami akan mengulas secara mendalam cara budidaya jangkrik;

Penyiapan sarana dan peralatan

Jangkrik adalah hewan yang active pada malam hari, oleh karenanya sebaiknya lokasi atau rumah jangkrik ditempatkan pada lokasi yang teduh. Usahakan lokasi kandang penelusuran jangkrik terhindar dari lalu lalang orang lewat. Buat kandang jangkrik semirip mungkin dengan kondisi habitat aslinya dengan cara mengolesi dinding kandang dengan lumpur sawah dan tidak lupa berikan daun kering seperti daun pisang, daun sukun, dan daun-daun yang lainsebagai tempat persembunyian jangkrik.

Pada bagian dinding atas kandang sebaiknya dilapisi dengan lakban supaya jangkrik tidak bisa merayap naik sampai keluar kandang. Salah satu sisi pada kandang sebaiknya dilapisi dengan kain kasa untuk mempermudah sirkulasi udara di dalam kandang serta bermanfaat menjaga kelembapan udara. Ukuran kandang jangkrik tidaklah baku, Anda bisa mengaturnya sendiri sesuai dengan jumlah populasi jangkrik yang akan budidayakan.



Berdasarkan pengamatan kami di lapangan, bentuk kandang jangkrik secara umum berbentuk segi panjang dengan tinggi 30-50 cm dengan lebar 60-100 cm serta panjangnya 120-200 cm. kandang jangkrik terbuat dari kayu yang menggunakan kerangka kaso atau Anda bisa memakai triplek untuk menghemat biaya. Kandang jangkrik bisa dibuat secara bersusun dan buatlah kaki penyangga untuk kandang paling bawah. Hal itu untuk menghindari gangguan binatang lain seperti tikus, semut, dan serangga lain. Tiap-tiap kaki penyangga sebaiknya diberi oli atau minyak supaya binatang-binatang penggangu tidak bisa merayap ke atas kandang.

Pembibitan

1. Pemilihan Bibit dan Calon Induk

Calon indukan jangkrik harus dalam kondisi sehat, tidak sakit, serta tidak cacat dan usianya sekitar 10-20 hari. Indukan jangkrik yang bagus adalah jangkrik yang berasal dari habitat aslinya atau alam bebas, karena pada umumnya mempunyai ketahanan tubuh yang lebih baik dibandingkan indukan hasil peliharaan. Namun jika Anda tidak mendapatkan indukan cake dari habitat aslinya tidak perlu khawatir Anda bisa membelinya di toko peternakan terdekat.

Berikut ini kami sampaikan ciri-ciri dari indukan jantan dan betina yang bagus:

Indukan:

  • sungut (antena) masih panjang dan lengkap
  • kedua kaki jangkrik bagian belakang masih lengkap
  • dapat melompat secara tangkas, gesit dan kelihatan sehat
  • badan dan bulu memiliki warna hitam mengkilap
  • pilihlah indukan yang besar
  • Pilih jangkrik yang mengeluarkan cairan dari mulut dan duburnya jika dipegang


Induk jantan:
  • sering mengerik
  • permukaan sayap atau punggung jangkrik, kasar dan bergelombang
  • tidak memiliki ovipositor di ekor


Induk betina:
  • tidak mengerik
  • permukaan sayap atau punggung halus
  • terdapat ovipositor di bawah ekor yang berfungsi untuk mengeluarkan telur

2. Perawatan Bibit dan Calon Induk

Perawatan jangkrik yang sudah dikeluarkan dari lokasi penetasan berusia 10 hari sebaiknya perhatikan betul dan dikontrol makanannya, supaya pertumbuhan anak menjadi lebih cepat. Perlu Anda perhatikan adalah jika makanan yang diberikan ke anakan jangkrik kurang, bisa mengakibatkan terjadinya kanibal dengan memakan anakan yang lemah. Pada umumnya makanan yang diberikan seperti singkong, ubi, sayuran dan daun-daun yang bisa Anda berikan bergantian.

3. Perkembangbiakan Jangkrik

Cara perkembangbiakan jangkrik dengan mengawinkan indukan jantan dan indukan betina, untuk proses bertelurnya menggunakan cara alami dan cara cesar. Namun jika Anda melakukan dengan cara sesar indukan betina nya kemungkinan besar akan mati dan telur yang diperoleh bisa merata tuanya akibatnya daya tetasnya menjadi rendah.

4. Cara Reproduksi dan Perkawinan Jangkrik

Indukan jangkrik bisa memproduksi telur dengan daya tetas yang tinggi kurang lebih 80-90 %, jika diberikan makanan yang bergizi tinggi. Adapun untuk makanannya tergantung dari peternaknya itu sendiri, namun kami memberikan rekomendasi dengan memberikan makanan seperti ketan hitam, bekatul jagung, tepung ikan, kuning telur bebek, dan bisa ditambahkan vitamin jika diperlukan.

Di alam bebas jangkrik biasanya menetaskan telurnya di pasir atau tanah. Oleh karena itu, sebaiknya Anda menyiapkan media pasir yang dimasukkan ke piring kecil di kandangnya. Tempatkan indukan betina dan jantan dengan rasio perbandingan 10:2 supaya didapatkan telur yang mempunyai daya tetas yang tinggi. Jangkrik yang sudah selesai bertelur selama 5 hari, segera dipisahkan telur dari induk nya supaya tidak dimakan indukannya tersebut. Kemudian segera semprotkan cairan antibiotik (cotrymoxale) untuk membersihkan kuman-kuman atau calon penyakit yang ada dalam kandang.

 5. Proses kelahiran

Siapkan kandang yang dilapisi dengan pasir, sekam atau handuk yang lembut untuk tempat penetasan telur. Masukkan telur ke dalam satu kandang menggunakan 1-2 sendok teh, dengan perkiraan 1500-2000 butir telur per sendoknya. Pada proses kelahiran berlangsung warna telur jangkrik akan mengalami perubahan dari bening menjadi kelihatan agak keruh. makalah kelembaban telur dengan melakukan penyemprotan setiap hari dan sebaiknya telur dibolak-balik supaya tidakjamuran. Telur jangkrik akan menetas secara merata sekitar 4-6 hari.

Pemeliharaan Jangkrik

Selalu jaga kondisi kebersihan kandang jangkrik  karena dengan menjaga kondisi kebersihan kandang maka bisa mencegah jadinya penyebaran penyakit yang bisa mengurangi tingkat produktivitas itu sendiri. Jika ditemukan jangkrik yang sakit sebaiknya segera disahkan supaya tidak menular ke jangkrik-jangkrik yang masih sehat. Jagalah kondisi kandang agar tetap lembab namun tidak basah, supaya tidak menyebabkan timbulnya beberapa penyakit.

Pemberian makanan jangkrik dimulai dari anakan yang berusia 1-10 hari dengan diberi makan voor atau makanan ayam yang terbuat dari beras merah, kacang kedelai, dan beras kering yang sudah dihaluskan. Setelah usia jangkrik lebih dari 10 hari bisa diberikan makanan seperti sayuran disamping gambas dan jagung muda. Sementara itu untuk jangkrik yang lagi dijodohkan diberi makanan diantaranya wortel, sawi, jagung muda, daun singkong, kacang tanah serta mentimun yang memiliki kandungan air yang tinggi. Selain itu ada juga yang menambahkan tepung ikan, ketan hitam, bekatul jagung, kuning telur bebek, serta vitamin yang dihaluskan yang kemudian dicampur menjadi satu

Panen Jangkrik

Bagi anda yang ingin beternak jangkrik ada dua jenis hasil utama yang bisa Anda dapatkan dari usaha ini yaitu yang pertama penjualan telur yang bisa digunakan oleh peternak lainnya, kedua jangkrik dewasa sebagai makanan burung dan ikan dan bisa digunakan pula sebagai tepung jangkrik

Bagi Anda yang ingin menjual telurnya bisa menempatkan telur di media pasir atau tanah yang kemudian ditempatkan pada media kain yang basah, untuk setiap lipatan kainnya Anda bisa menaruh 1 sendok teh telur yang kemudian siap dijual. Apabila ingin menjual jangkrik dewasa bisa dipanen pada usia 40-50 hari atau 55-70 hari yang ciri cirinya yaitu sudah mulai tumbuh sayap.
Read more

Budidaya Kroto


Pencinta burung kicau pasti sudah tidak asing dengan istilah kroto, yaitu telur semut rangrang atau Oecophylla smaragdina. Kroto banyak digunakan untuk pakan burung dan juga ikan.

Permintaan kroto cukup tinggi, terutama dari para pencinta burung kicau. Padahal, keberadaannya di alam terbatas. Bahkan, pasokan kroto di alam kian berkurang dengan semakin berkurangnya hutan. Kroto juga berkurang saat musim hujan. Padahal permintaannya cenderung naik.

Makanya, pembudidayaan semut rangrang mulai dilakukan. Salah satu pembudidaya adalah Ajiponto di Yogyakarta. Ia terjun di budidaya semut rangrang sejak tahun lalu, lantaran melihat peluang bisnis yang cerah.

Menurutnya, tiap bulan, permintaan kroto atau telur yang dihasilkan semut rangrang terus meningkat. Maklum, permintaan tak hanya datang dari pecinta burung kicau, tetapi juga dari pemancing ikan. Mereka memanfaatkan kroto sebagai umpan yang ditebar di kolam pemancingan demi memanggil para ikan.

"Kalau Senin hingga Jumat biasanya yang beli kroto adalah para pencinta burung kicau. Tapi, kalau Sabtu dan Minggu, pembeli kroto didominasi para pemancing ikan," papar pria 36 tahun ini.

Ajiponto menjual bibit semut rangrang, kroto, serta memberikan pelatihan cara budidaya. Satu toples berisi sebuah sarang semut rangrang dibanderol Rp 100.000. Sebuah sarang biasanya berisi ribuan semut rangrang. Adapun satu kilogram (kg) kroto dihargai Rp 150.000.

Dalam sebulan, ia bisa menjual sekitar 40 kg kroto dan 200 sarang. Artinya, tiap bulan Ajiponto bisa mengantongi omzet Rp 26 juta.

Pebudidaya lain, yaitu Joko Septyawan yang berdomisili di Bantul, Yogyakarta, sudah berkecimpung dalam budidaya semut rangrang sejak dua tahun silam.

Tadinya, sama seperti Ajiponto, ia juga menjual kroto serta bibit semut rangrang (sarang). "Tapi, sekarang saya lebih fokus pada penjualan bibit karena permintaannya terus meningkat," tutur Joko.

Satu toples bibit semut ukuran 2 liter dibanderol dengan harga Rp 175.000. Sementara itu, bibit semut untuk toples ukuran 5 liter dilego Rp 350.000. Tiap bulan, setidaknya ia bisa meraih omzet Rp 3,5 juta.

Dari segi bisnis, baik Joko maupun Ajiponto menyebut bahwa budidaya semut rangrang penghasil kroto ini terbilang menggiurkan. Modal atau ongkos produksi cukup murah. Ajiponto mengaku bisa mengantongi keuntungan bersih mencapai 80 persen dari omzet bulanan.

Bahkan, Joko mengklaim bisa mendapatkan keuntungan bersih hingga 90 persen dari omzet tiap bulan. "Ongkos budidaya sangat kecil karena perawatannya juga simpel," imbuhnya.

Budidaya semut rangrang penghasil kroto tergolong mudah dan tidak butuh biaya besar. Ajiponto, pebudidaya semut rangrang asal Yogyakarta, mengatakan bahwa budidaya semut rangrang cukup dijauhkan dari hewan pengganggu dan diberi makanan yang cukup.

Menurut Ajiponto, kandang tempat budidaya semut rangrang bisa memanfaatkan toples minimal ukuran 1 liter. Toples tersebut bisa menampung satu koloni semut rangrang yang jumlahnya mencapai ribuan ekor.

Koloni semut rangrang bisa didapat dari alam, tetapi sekarang banyak juga dijual berikut toplesnya. Hanya, Ajiponto mengingatkan, tidak semua bahan toples cocok buat budidaya semut rangrang.

Ia menyarankan, lebih baik jika toples terbuat dari bahan mika. Dari pengalamannya selama ini, semut rangrang lebih cepat membangun sarang bila ditaruh di toples berbahan mika. "Kalau berbahan mika sarangnya bisa jadi dalam 2 x 24 jam. Kalau bahan lain bisa tiga sampai empat hari," ujarnya. 

Kondisi toples sendiri harus bersih dari tanah. Nantinya, semut rangrang akan mengeluarkan semacam benang sutra dari mulutnya sebagai bahan membuat sarang. Di salah satu bagian samping toples harus dilubangi seukuran jari kelingking. Lubang itu berfungsi sebagai tempat keluar masuk semut saat mencari makan dan minum. 

Supaya semut tidak pergi jauh, toples bisa ditaruh dalam keadaan terbalik di sebuah meja. Tempatkan mangkuk berisi air di kaki-kaki meja itu sehingga semut tidak keluar dari area meja. 

Supaya hasilnya maksimal, meja toples harus dijauhkan dari sinar matahari dan gangguan hewan, seperti cicak, tokek, katak, ataupun tikus. 

Untuk pakan dan minumnya, cukup sediakan ulat hongkong dan air gula di meja tersebut. Nantinya, semut akan keluar sendiri dari toples lewat lubang yang sudah disediakan. "Misal satu meja ada 30 koloni (30 toples), pemberian makannya cuma butuh kira-kira satu ons ulat hongkong untuk sebulan," timpal Joko Septyawan, pembudidaya semut rangrang lainnya. 

Ulat hongkong ini banyak dijual di pasar seharga Rp 5.000 per ons. Untuk minumnya bisa diberikan air gula dengan komposisi setiap satu sendok teh gula pasir dicampur 200 mililiter (ml) air matang. "Air sebanyak itu cukup untuk waktu tiga sampai empat hari," ujarnya.

Biasanya dalam waktu sebulan, semut sudah mulai menghasilkan kroto. Untuk toples berukuran 1,5 liter, hasilnya bisa setengah sampai 1 ons kroto setiap bulannya. 

Mengambil kroto cukup dengan mengangkat toples. "Lalu tinggal pisahkan kroto dari sarang," katanya. Mudah kan?
Read more

Geliat Rupiah dari Budidaya Cacing

Banyak orang bergidik jijik ketika melihat geliat cacing. Hewan tak bertulang belakang ini menimbulkan kesan menjijikkan bagi sebagian besar orang. Namun beda halnya dengan Abdul Azis Adam Maulida. Bagi laki-laki yang akrab disapa Adam ini, sejak empat tahun lalu cacing justru menjadi sumber pendapatan.

Sejak menamatkan pendidikan sarjana di Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Adam sudah punya niat berwirausaha. Namun niat itu terkubur lantaran tak menemukan ide usaha. Adam pun memutuskan menjadi karyawan di sebuah pabrik kertas. Selama sepuluh tahun, Adam bekerja di PT Tjiwi Kimia, di Mojokerto, Jawa Timur.

Baru pada 2010 dia meninggalkan pekerjaan itu. “Menurut saya, kalau bekerja di perusahaan, seseorang susah berkembang karena harus berhadapan dengan batasan dari sistem perusahaan tersebut. Sementara di luar begitu banyak peluang yang menanti,” ujar lelaki berusia 39 tahun ini.

Adam pun memantapkan diri untuk memulai usaha sendiri. Ia kembali ke tanah kelahirannya, Malang, Jawa Timur, pada awal 2010 dan memilih agribisnis dengan menggeluti budidaya belut yang sedang ngetren kala itu. Adam menggelontorkan modal sebesar Rp 20 juta, termasuk untuk membeli sekitar dua kuintal belut.

Namun, Adam tak menyangka, banyak kendala dalam beternak belut. Sejak awal, ia sering mendapati belut-belut itu mati. “Pokoknya, sulit sekali bagi saya untuk membudidayakan belut sehingga hanya enam bulan saya beternak belut,” kata dia. Padahal Adam sudah ikut berbagai seminar mengenai pembiakan belut.

Yang tersisa hanyalah pakan belut, yakni cacing tanah sebanyak empat kilogram. Dia mengamati, ketika semua belutnya mati, cacing-cacing itu tetap bertahan, bahkan, berkembang. Dari situlah Adam mendapat ide untuk membudidayakan cacing yang memiliki nama latin Lumbricus rubellus.

Tepatnya, pada Agustus 2010, Adam mulai membiakkan cacing tanah. Sebelumnya, dia mempelajari seluk-beluk budidaya cacing tanah. Selain membaca buku, Adam juga belajar secara autodidak dengan praktik langsung di lapangan.

Dengan modal Rp 200.000, ayah seorang anak ini membeli indukan cacing. Selanjutnya, untuk media, dia membeli kotak kayu ukuran 40 cm x 50 cm yang ditumpuk hingga 12 tingkat. Jadi, Adam tak perlu lahan yang terlalu luas.

Adam tak perlu membeli makanan cacing. Cacing bisa diberi makan dari limbah rumahtangga maupun limbah pasar. Ia mengolah limbah dari para tetangganya untuk dijadikan pakan cacing. “Cara membudidayakan cacing memang sangat mudah. Makanya saya tertarik dan tak pernah berpikir untuk berhenti sampai sekarang,” tutur dia.


Bapak cacing

Adam mengaku, ketika mulai merintis budidaya cacing, dia belum mendapatkan pasar sama sekali. Hingga pada akhir 2010, dia mendapat titik terang. Seorang pemilik tempat pemancingan mendatangi peternakannya untuk memesan cacing.

Dulu, Rumah Cacing, nama peternakan cacing milik Adam, hanya bisa memproduksi lima kilogram cacing per minggu. Akan tetapi, kini, dia bisa memproduksi hingga tujuh ton cacing tanah per bulan. Omzetnya pun meningkat pesat. Dalam sebulan Adam bisa mengantongi sekitar Rp 300 juta.

Adam bilang, ia butuh proses cukup panjang untuk bisa menemui kesuksesan seperti saat ini. Setelah memasok cacing untuk beberapa tempat pemancingan di Malang, Adam semakin giat meningkatkan produksi. Nama Adam pun mulai dikenal penduduk Malang. Ia bahkan disebut-sebut orang sebagai Bapak Cacing.

Pada 2011 ia mendapat order untuk memasok cacing oleh Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur. Sayang, Adam belum bisa langsung menyanggupi. Pasalnya, produksi cacingnya per bulan belum mencapai satu ton, seperti permintaan Dinas Perikanan itu.

Tak hilang akal, Adam menularkan ilmunya ke orang lain. Dia melakukan sosialisasi soal cacing ke masyarakat di sekitar Malang, sekaligus mengajak mereka untuk ikut membudidayakan cacing. “Saya ajak mereka untuk datang ke Rumah Cacing, lalu saya ajari cara beternak cacing,” ucap dia.

Di awal, usaha ini belum berbuah banyak. Hanya ada dua orang yang mau bergabung dengan Adam. Lalu, Adam mengembangkan sistem plasma dengan lebih terkoordinasi. Dengan sistem plasma, siapa pun yang bergabung akan mendapat pelatihan dari Rumah Cacing. Selanjutnya, Adam akan membeli hasil panen cacing dari anggota plasma.

Sampai saat ini, Adam sudah memiliki sekitar 1.600 anggota plasma. Namun, tidak semua anggota bisa konsisten memasok cacing padanya. “Dari keseluruhan jumlah anggota, sekitar 700 orang aktif menjual hasil panennya pada saya,” kata dia.

Suami Heni Nur Rahmania ini bilang, dalam sehari bisa disambangi sekitar 100 orang yang ingin belajar budidaya cacing. Adam menuturkan, budidaya cacing sebenarnya sangat gampang. Lagipula tingkat keberhasilan budidaya cacing hampir 100 persen. Hanya, informasi mengenai peluang budidaya cacing masih tergolong sedikit.

Sejauh ini, Adam tak menemukan penyakit atau hama yang mengganggu pertumbuhan cacing. “Kalau sudah tahu peluang usahanya pasti tertarik karena mudah,” tandas dia.

Selain mengandalkan pasokan dari anggota plasma, Adam pun masih terus memproduksi cacing. Bedanya, sekarang ia sudah memperkerjakan delapan orang karyawan. Kandang cacing pun sudah tak menggunakan kotak kayu lagi. Adam membangun 100 kolam yang dibuat dari batubata. Sekarang, Adam jadi pemasok utama cacing tanah untuk Dinas Perikanan Provinsi Jatim. Ia juga masih melayani penjualan kepada para pemilik usaha pemancingan dan pengusaha perikanan.    

Pengusaha tak bisa berhenti

Menanggalkan status  karyawan di perusahaan besar bukan hal mudah bagi Abdul Azis Adam Maulida. Kedua orangtuanya sempat menentang. Maklum, mereka bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Jadi ketika Adam mengungkapkan keinginan untuk menjadi pengusaha, langsung tak mendapat respons baik dari orangtuanya.

Namun tekad Adam sudah bulat, meski dia sadar, usahanya tak langsung besar dalam sehari. “Setidaknya saya keluar dari sistem perusahaan dan bisa menciptakan sistem saya sendiri dengan potensi yang saya punya,” tutur Adam.

Dia berpesan, pengusaha harus terus berkembang. Tak ada lagi batasan yang menghalangi untuk berkembang selain diri sendiri. “Pelajari dulu peluang usaha. Kalau memang bagus, terus kembangkan, jangan berhenti karena pengusaha tak boleh mandek,” tegasnya.

Adam menegaskan peluang berbudidaya cacing masih sangat terbuka. Pembeli cacing sangat beragam, mulai pengusaha perikanan, peternak unggas hingga industri kosmetik dan farmasi. Tahun ini, Adam ingin menyasar industri farmasi. Namun, dia ingin membenahi produksinya sebelum memasok pasar baru. “Saya akan menambah anggota plasma untuk mendongkrak produksi,” ucap dia.

Adam menambahkan, dari budidaya cacing, ia bisa mengembangkan banyak potensi bisnis yang lainnya. Sejauh ini, Adam sudah merintis berbagai usaha yang masih berhubungan dengan bisnis utamanya. Misalnya saja, kebun jahe organik yang dikembangkan dengan pupuk dari kotoran cacing.

Selain itu, dia memiliki peternakan kambing, ayam, dan empang ikan yang akan mengonsumsi cacing untuk penggemukan. “Saya ingin kembangkan lebih banyak lagi dan saya juga memotivasi anggota plasma untuk sama-sama berkembang,” ungkap dia. 
Read more

Budidaya kacang merah


Kacang merah merupakan salah satu jenis polong-polongan yang banyak dikonsumsi masyarakat dunia, termasuk di Indonesia. Manfaat tanaman yang memiliki nama Latin Phaseolus vulgaris L. ini berlimpah, sehingga sering digunakan sebagai bahan pelengkap sayur atau juga kerap dikonsumsi sebagai salah satu pelengkap menu salad.

Kacang merah banyak mengandung asam folat, kalsium, karbohidrat dan protein yang dibutuhkan oleh tubuh. Selain itu, kadar serat yang tinggi juga bisa membantu menurunkan kolesterol dalam tubuh. Itu sebabnya, permintaan kacang merah terus ada. Sehingga banyak pembudidaya yang melirik membiakkan tanaman polong ini.   

Salah satunya adalah Budiman Bagus, asal Malang, Jawa Timur. Dia telah membudidayakan kacang merah sejak 2006 silam. Agar dapat terlindungi dari serangan hama, Budiman menanam kacang merah diselingi dengan tanaman kentang. Selain menjual hasil panen kacang merah, Budiman juga menjual bibit tanaman ini.

Pada lahan seluas 10 hektare (ha), Budiman bersama dengan petani lainnya membudidayakan tanaman sayuran, termasuk kacang merah yang menempati separuh dari total lahan tersebut. Kacang merah bisa dipanen tiga bulan sekali.

Dalam sekali panen, Budiman bisa menghasilkan 1.000 kg kacang merah. Harga jual di pasaran sekitar Rp 8.000 per kg. "Dari situ omzet yang didapatkan bisa mencapai Rp 8 juta sekali panen," ujar Budiman.

Biasanya Budi memasok komoditas ini ke pasar-pasar tradisional di Pulau Jawa seperti Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Malang dan Surabaya. Selain itu, ada juga pembeli yang datang dari Medan.
Budi bilang, kacang merah hanya bisa di budidayakan di daerah dataran tinggi yang memiliki iklim sejuk dan daerah yang memiliki kandungan air yang cukup banyak. Jenis tanah yang cocok untuk tanaman kacang merah adalah andosol dan regosol karena mempunyai drainase yang baik.

Petani lainnya yang juga memetik laba dari budidaya kacang merah adalah Hasrul Zakariya. Petani asal Situbondo, Jawa Timur ini menanam kacang merah dan beberapa tanaman palawija di tanah seluas 0,5 ha. Lahan yang digunakan untuk menanam kacang merah hanya sekitar 2.000 meter persegi (m²). Perkebunannya terletak di Bondowoso, tidak jauh dari kawasan Gunung Ijen.

Budi mengaku penjualan kacang merah tidak pernah sepi. Konsumennya adalah para pengusaha industri makanan, restoran serta hotel. Biasanya setiap seminggu sekali ada konsumen yang mengambil dalam partai besar minimal 5 kuintal dengan harga jual Rp 7.500 per kg.    

Potensi bisnis dari budidaya kacang merah cukup menggiurkan. Permintaannya cenderung menanjak seiring meningkatnya kesadaran gaya hidup sehat di masyarakat modern. Para pembudidaya kacang merah mengaku kerap memasok kacang merah ke restoran dan hotel-hotel serta industri olahan makanan.

Cara budidayanya pun cukup mudah. Hasrul Zakaria, pembudidaya kacang merah dari Situbondo, Jawa Timur, mengatakan, pada dasarnya kacang merah bisa tumbuh di medium manapun. Bahkan jika mau ditanam di depan pekarangan rumah juga bisa. Akan tetapi jauh lebih maksimal lagi jika ditanam di daerah dataran tinggi.

Sebelum ditanam, bibit kacang merah harus dipilah yakni yang tidak memiliki cacat dan warnanya agak mengkilap. Bibit tersebut direndam terlebih dahulu di dalam air selama 15 menit sebelum ditanam.

Lahan tanam harus digemburkan terlebih dulu dan ditambahkan pupuk kandang sebagai nutrisi awal pertumbuhan bibit. "Biasanya saya beri pupuk kandang dari peternakan sekitar Bondowoso. Setiap 1 meter persegi (m²) lahan bisa habis 2 kilogram (kg) pupuk," kata dia.

Untuk lahan di atas 2.000 m², Hasrul butuh 8 kg-12 kg bibit. Tanaman kacang merah harus dijaga kelembabannya dengan cara disiram secara berkala. Kecambah akan mulai terlihat setelah satu minggu penyemaian.

Memasuki usia sebulan, harus waspada terhadap hama yang sering menyerang adalah ulat polong yang suka mengerat daun. Maka, untuk antisipasi, Hasrul menyemprot fungisida tiga minggu setelah penyemaian.

Setelah berumur 2,5 bulan, polong kacang merah bisa segera dipanen. Hasrul mengingatkan, apabila pemetikan terlambat maka polong kacang merah akan berserat keras dan rasanya kurang enak sehingga tidak laku dijual.

Setelah disortir biasanya Hasrul memisahkan dan membungkus dengan plastik berdasarkan tingkat ketuaan kacang merah. Plastik pembungkus harus diberi lubang dan langsung didistribusikan. "Kacang merah di gudang penyimpanan hanya dapat bertahan selama dua minggu sampai empat minggu," kata Hasrul.

Sementara, Budiman Bagus, pembudidaya asal Malang, Jawa Timur menanam kacang merah diselingi dengan tanaman kentang untuk melindungi serangan ulat tepung dan tikus kebun yang sering menjadi hama tanaman. Biasanya, efek dari hama tersebut menyebabkan daun si kacang merah menjadi bolong-bolong bahkan bisa menyebabkan gagal panen.

Agar tumbuh subur, penyiraman harus rutin dilakukan sebanyak dua kali dalam sehari selama 60 hari hingga masa panen tiba.
Read more

Budidaya Tanaman pucuk merah


Tanaman pucuk merah sudah cukup populer di kalangan para pecinta tanaman hias. Daunnya yang memiliki dua warna, yakni hijau dan merah, menjadi ciri khas tanaman yang hidup subur di daerah tropis ini. Kekhasannya itulah yang membuat tanaman yang memiliki nama latin Syzigium oleina ini memiliki banyak peminat.

Pucuk merah memiliki daun-daun yang tumbuh rapat antara satu daun dengan daun lainnya serta tekstur daunnya halus mengkilap. Tanaman ini biasanya ditanam dengan dibentuk lancip, seperti pohon cemara.  
Pemotongan pucuk-pucuk daun ini membuat tunas-tunas baru muncul dengan warna merah. Pucuk daun yang berwarna merah ini nampak seperti bunga yang sedang mekar.

Ahmad Usman, pembudidaya tanaman pucuk merah dari Yogyakarta mengatakan, banyak orang menyukai pucuk merah karena tanaman ini jika sudah besar membuat rumah terlihat sejuk.
Ataupun jika masih berada di dalam pot, dapat digunakan sebagai pembatas pada dinding rumah. Tanaman ini juga sering dijumpai di berbagai taman di tempat-tempat wisata serta tempat-tempat umum lainnya sebagai peneduh seperti di masjid atau kantor-kantor.

Usman menanam tanaman pucuk merah di lahan seluas 400 meter persegi (m²). Dia bilang, bibit-bibitnya didatangkan dari Magelang, Jawa Tengah. Saat awal-awal melakukan budidaya di 2012, ia hanya memiliki 500 tanaman. "Saat ini, jumlahnya sudah ribuan pohon dengan berbagai ukuran," ujar dia.  
Usman menjual indukan dan juga bibit pucuk merah di polybag dengan tinggi pohon 15 sentimeter (cm). Dia juga menjual tanaman hias lain seperti anthurium atau hibicus.

Usman menjual bibit pucuk merah seharga Rp 5.000 hingga Rp 15.000 per polybag. Sedangkan harga jual indukan bervariasi, mulai dari Rp 35.000 hingga Rp 250.000 per pohon, tergantung ukuran tinggi pohon.
Membesarkan bibit yang masih berukuran 5 cm hingga mencapai 120 cm hanya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Dalam sekali panen indukan, Usman bisa mendapatkan ratusan bibit pucuk merah. Dalam sebulan, Usman mengaku bisa mendapat omzet hingga Rp 30 juta dari penjualan pucuk merah.
Jika dikurangi biaya pembelian pupuk dan biaya  operasional lainnya, Usman bisa mengantongi laba bersih hingga 45%. Herman Purnawan, pembudidaya lainnya dari Tangerang Selatan menanam pucuk merah di lahan seluas 500 m2.

Saat ini dia memiliki total bibit dan indukan pucuk merah lebih dari 2.000 pohon. Herman mengaku bisa meraup omzet dari penjualan pucuk merah sekitar Rp 20 juta saban bulan.      

Tanaman pucuk merah merupakan salah satu tanaman hias yang cukup unik. Walaupun tidak memiliki bunga, tubuh tanaman ini ditumbuhi daun yang berwarna warni, mulai dari hijau dan merah. Nah daun berwarna merah inilah yang sering disangka bunga karena berada di sela-sela daun hijau.
Kombinasi warna inilah yang menjadikan pucuk merah digemari sebagai tanaman hias. Padahal jika ditelusuri, tanaman ini masuk dalam familia tanaman cengkih karena memiliki bentuk daun yang sama persis.

Keunikan lainnya adalah kemudahan menanam pucuk merah. Hampir seluruh wilayah Indonesia adalah tempat ideal bagi pucuk merah sebab tanaman ini suka tempat yang kaya sinar matahari. Tanaman ini dapat tumbuh di dalam pot atau tempat terbuka.

Ahmad Usman, petani yang membudidayakan pucuk merah selama dua tahun bilang, pucuk merah cepat tumbuh besar sehingga lebih baik ditanam berjajar dengan jarak jarak 50 cm- 100 cm. Nah bagi yang tidak memiliki lahan luas, mengakalinya dengan pot.

Merawat pucuk merah juga terbilang mudah. Jika ingin tetap ditempatkan di pot, tentu saja harus rajin dipangkas minimal 2 minggu sekali.  "Yang paling penting dalam perawatan adalah penyiraman dan mangkas. Pemangkasan bertujuan untuk mempertahankan keindahan supaya warna merah dan hijaunya merata, " kata Usman.

Jika sudah cukup tua, daun yang berwarna merah bisa memudar warnanya, dengan dipangkas akan menimbulkan tunas baru dengan warna yang lebih cantik. Asyiknya, saat memangkas pucuk merah, pelanggan dapat menyesuaikan dengan keinginan hati seperti bentuk  lingkaran, kerucut menyerupai pohon cemara, atau bentuk-bentuk lainnya.

Sementara itu, Herman Purnawan di BSD, Tangerang Selatan bilang, meski merawat pucuk merah tergolong mudah, antisipasi hama juga harus dilakukan. Selain menyiram sehari sekali dan pemberian pupuk dua bulan sekali, ia juga menggunakan suprasit.

Pasalnya meski pucuk merah terlihat sehat, ada juga pengganggu tanaman yang memakan daun, yaitu ulat coklat.  Maka itu pemeriksaan daun setiap sebulan sekali juga penting.

Selain ulat coklat, Herman bilang, hama yang biasa hinggap adalah gulma yang tumbuh di sekitar pucuk merah. Bahkan hama ini biasa tinggal di dalam polibag. Kalau sudah begitu, mau tidak mau pengendaliannnya dilakukan secara manual, yaitu mencabut semua gulma. 

Penyiangan dilakukan dengan rotasi dua minggu sekali atau tergantung pertumbuhan gulmanya. Cara kimia juga bisa dengan memberi sprayer herbisida.
Read more

Manisnya budidaya buah naga kuning

Melihat buah naga warna merah dan putih sudah bukan lagi hal baru. Tapi, beberapa tahun terakhir, ada varian lain dari buah yang berasal dari Meksiko, Amerika Tengah ini. Yakni, buah naga kuning.

Bukan hanya warnanya yang berbeda. Bentuk buah naga kuning ini juga beda dari jenis buah naga merah atau putih. Kulit buah naga kuning mengeluarkan duri menyerupai kaktus. Meski begitu, rasa buah ini lebih manis dan segar bila dibandingkan dua jenis lainnya.

Namun, dari sisi kesehatan, manfaatnya sama dengan jenis lainnya. Yakni, dapat menurunkan kolesterol, menetralisir racun, mencegah kanker, dan lainnya. Lantaran bentuknya unik dan rasanya lebih manis, belakangan banyak orang membudidayakan naga kuning. Salah satunya adalah Soerjanto Hadiwin asal Mojokerto, Jawa Timur.

Ia sudah membudidayakan buah naga kuning sejak tahun 2013 lalu. Soerjanto mempunyai dua lokasi budidaya di Mojokerto dan Prigen, Jawa timur. Saat ini, ia sudah memiliki sekitar 500 pohon buah naga kuning. "Buah naga jenis ini masih jarang dibudidayakan," katanya pada KONTAN.
Makanya, tak heran bila harga jual buah ini cukup mahal. Soerjanto membanderol harga buah naga kuningnya Rp 200.000 per kilogram (kg). Bandingkan dengan buah naga merah yang hanya sekitar Rp 20.000 per kg.

Sekali panen, Soerjanto bisa memetik 20 kg buah naga kuning, dengan omzet sekitar Rp 4 juta. Sedangkan keuntungannya sekitar 80% dari omzet. Soerjanto mengaku, saat panen kedua jumlah panennya lebih banyak. "Kalau panen pertama memang masih sedikit," tambahnya.
Seluruh hasil panen didistribusikan ke ritel modern. Pembudidaya lainnya adalah Agus Rhoma asal Malang, Jawa Timur. Agus sudah mengembangkan perkebunan buah naga sejak tujuh tahun lalu. Jenis buah naga yang ia kembangkan adalah buah naga merah, buah naga super red hybrid, dan buah naga kuning.

Khusus buah naga kuning, ia baru membudidayakannya sekitar lima tahun lalu. Di bawah bendera CV Naga Jaya Makmur, Agus mengembangkan naga kuning ini mulai dari pembibitan hingga buah di lahan 3 hektare (ha). Dari lahan itu, seluas 0,5 ha khusus buah naga kuning.

Lahan itu bisa menghasilkan 2.000 buah naga kuning yang masa panennya sekitar satu tahun sampai dua tahun. "Setiap pohon bisa menghasilkan 2 kg-3 kg," ujar Agus. Ia memasok hasil panen ke sejumlah supermarket di sekitar Malang. Harga jualnya  berkisar Rp 75.000–Rp 100.000 per kg.
Dalam sebulan, Agus bisa menjual 400 kg buah naga kuning, dengan omzet Rp 30 juta per bulan. Keuntungan bersihnya 70%–80% dari omzet.               

Buah naga kuning terbilang cukup jarang dibudidayakan di Indonesia. Maklum saja, tanaman asal Meksiko, Amerika Tengah, ini memang baru beberapa tahun belakangan ini mulai populer. Meski begitu, cara budidaya terbilang cukup sederhana.

Soerjanto Hadiwin, pembudidaya buah naga kuning asal Mojokerto, Jawa Timur ini menjelaskan, tanaman ini dapat dikembangkan dengan cara disambung. Agar pohon bisa kuat dan bertahan lama, sebaiknya batang buah naga kuning disambung dengan tanaman buah naga putih yang digunakan sebagai akarnya. “Kalau tidak disambung juga bisa tapi tanaman akan cepat mati dan rentan penyakit,” katanya.  

Agar pembiakan menghasilkan tumbuhan yang sempurna, sebaiknya menggunakan pohon buah naga yang sudah tua dan yang sudah pernah berbuah. Sedangkan, untuk batang buah naga kuning juga dipilih yang sudah pernah berbuah.

Untuk media tanam dapat menggunakan campuran tanah dengan pupuk organik yang terbuat dari kotoran kambing dengan komposisi 1:1. Tanaman ini juga harus mendapatkan sinar matahari yang cukup.

Perawatan tanaman ini cukup mudah karena hanya perlu disiram selama satu minggu atau dua minggu sekali saat musim kemarau. Saat musim penghujan, tanaman tidak perlu disiram lagi. Sedangkan pemupukan dapat dilakukan enam bulan sekali menggunakan pupuk organik.
Tanaman ini membutuhkan waktu sekitar 1,5 tahun untuk dapat berbuah. Pada panen pertama biasanya jumlah buah dalam satu pohon hanya sedikit.

Agus Rhima, pembudidaya buah naga kuning asal Malang mengatakan, yang membedakan buah naga merah dan kuning adalah jumlah buah yang dihasilkan. Tanaman buah naga kuning menghasilkan lebih sedikit daripada buah naga merah. Selain itu, ukuran buah naga kuning juga lebih kecil ketimbang buah naga merah.

Agus menjelaskan, cara budidaya lainnya adalah dengan cara pembibitan. Sebelum ditanami, lahan harus bersih dari gulma dan rumput liar. Lalu, siapkan media tanam berupa campuran pasir, kompos, tanah gembur, sekam dengan perbandingan 2:3:2:1. Selanjutnya, media tanam tersebut dilubangi dengan kedalaman sekitar 40 cm.

Setelah itu, buat tiang dengan ukuran 10 cm x 10 cm dengan tinggi 2 m yang nantinya akan ditancapkan di setiap lubang dengan kedalaman minimal 10 cm. Lalu, masukkan media tanam ke dalam lubang hingga penuh. Baru bibit ditanam di setiap lubang.  Agus menyarankan agar tanaman tidak busuk ketika musim hujan, sebaiknya perbaiki ph tanah dengan cara pengapuran di permukaan tanah.
Read more

Hangatnya Budidaya Cengkeh


Sejak dulu Indonesia terkenal sebagai negara penghasil rempah-rempah dunia. Salah satu jenis rempah Indonesia yang sudah sangat kesohor di dunia adalah cengkeh. Sampai saat ini, cengkeh masih menjadi salah satu komoditas andalan Indonesia.

Tak heran, bila di negara beriklim tropis ini banyak ditemukan pembudidaya cengkeh. Alhasil, permintaan bibit cengkeh pun tinggi di pasaran. Ini juga yang mendorong banyak orang tertarik mengembangkan bibit cengkeh buat dijual.

Salah satunya adalah Lahar Mahdi, seorang pengembang bibit cengkeh asal Purworejo, Jawa Tengah. Mahdi telah mengembangkan bibit cengkeh sejak sembilan tahun lalu.
Selain fokus mengembangkan bibit, sebagian ada yang juga yang dikembangkannya hingga menghasilkan buah buat dijual ke pasar.

Saat ini, Mahdi memiliki 70.000–100.000 polibag bibit, dengan tinggi batang mulai 20 sentimeter (cm)–100 cm. Ada pun harga jualnya mulai Rp 2.500–Rp 15.000 per polibag.

Mayoritas konsumen Mahdi adalah para petani cengkeh. Satu petani biasanya membeli 50 polibag–100 polibag cengkeh. "Kalau lagi banyak bisa antara 2.000 batang–5.000 batang cengkeh," ujarnya pada KONTAN.

Dalam sebulan, Mahdi bisa menjual sebanyak 5.000 bibit–10.000 bibit cengkeh. Apalagi bila memasuki musim hujan seperti sekarang ini. "Cengkeh itu kalau musim hujan laku. Kami bisa jual sampai 20.000 polibag dalam sebulan," kata Mahdi.

Dari penjualan itu, Mahdi dapat meraup omzet Rp 100 juta per bulan. Laba bersihnya sekitar 40% dari omzet. Mahdi fokus memasarkan bibit cengkehnya lewat toko online dengan alamat website www.majuberkah.com. Lewat toko online itu, ia berhasil menjangkau konsumen dari berbagai daerah.

Menurut Mahdi, berkebun cengkeh tergolong investasi yang cukup menjanjikan. "Harga cengkeh kering masih mahal dan permintaan pasar juga masih tinggi," jelasnya.
Makanya, permintaan bibit cengkeh tak pernah sepi. Pengembang bibit cengkeh lainnya adalah Muridun Kurnianto asal Depok, Jawa Barat.

Dia mengaku sudah mengembangkan cengkeh sejak tiga tahun lalu. Ia melakukan proses pembibitan dari biji hingga tanaman cengkeh muda. Saat ini, dia mempunyai sekitar 500 polibag bibit cengkeh. “Saya memang tidak banyak kalau membibitkan, nanti kalau pesanan banyak, saya bisa pinjam milik teman,” jelasnya.

Kebanyakan pelanggan dari sekitar Depok, Jakarta, dan Bogor. Mudirun membanderol harga bibit cengkeh sekitar Rp 15.000 per polibag ukuran tinggi 40 cm. Dalam sebulan, ia bisa menjual 200 polibag– 500 polibag, dengan omzet Rp 3 juta.        

Cara membudidayakan tanaman cengkeh bisa dikatakan cukup mudah. Lahar Mahdi, pembudidaya cengkeh asal Purworejo, Jawa Timur menjelaskan, untuk membudidayakan tanaman ini cukup menyediakan biji cengkeh, air, dan pupuk. Tentunya, juga harus menyediakan polibag sebagai media tanam dan tanah yang sudah digemburkan. Tanah yang cocok untuk budidayakan jenis rempah ini adalah tanah latosol dan andosol.

Pertama, kulit biji cengkeh harus dikupas terlebih dahulu. Setelah pengupasan, benih direndam dalam air selama kurang lebih 24 jam hingga menjadi lembab lalu cuci benih dengan air bersih sambil digosok.

Pembibitan cengkeh bisa dilakukan dengan membuat bedengan dengan lebar sekitar 1 meter (m)−1,2 m dan panjang disesuaikan dengan kebutuhan. Bedengan tersebut dibatasi saluran air atau parit sedalam 20 cm dengan lebar 30 cm−50 cm. Hal ini bertujuan untuk menghindari genangan air dan memudahkan pemeliharaan.

Setelah kecambah tumbuh, barulah disemai dalam polibag yang sudah diisi campuran tanah dengan pupuk kompos. Mahdi bilang, perawatan dilakukan dengan cara penyiraman rutin setiap hari dan penyemprotan dengan pestisida agar tanaman terhindar dari serangan ulat dan hama. "Pemupukan sebaiknya tiap 2 bulan sampai 3 bulan sekali," kata dia.

Mudirun Kurnianto, pembudidaya tanaman cengkeh asal Depok, Jawa Barat menambahkan, agar menghasilkan bibit tanaman yang berkualitas dan tahan lama, sebaiknya pembudidaya menggunakan biji dari pohon cengkeh yang usianya 25 tahun.

Sebelum biji disemai baiknya dijemur di bawah sinar matahari dengan ditutup menggunakan plastik. Tujuannya, agar bisa dapat berkecambah. Setelah itu baru disemai dalam polibag yang berisi campuran pupuk kompos dengan tanah, Komposisinya 1:1.

Saat tinggi tanaman sekitar 20 cm hingga 30 cm, tanaman cengkeh siap dipindahkan ke polibag yang lebih besar agar perkembangan bisa lebih maksimal.

Untuk perawatannya cukup mudah karena cengkeh tidak membutuhkan tanah yang terlalu lembab. Jadi saat musim hujan, tanaman ini tidak perlu disiram. Tetapi saat musim kemarau penyiraman dapat dilakukan satu minggu sekali, agar tanaman mendapatkan cukup asupan air.

Agar tanaman cengkeh bisa tumbuh dengan baik, selain dipupuk sekitar sebulan sekali menggunakan pupuk kimia, namun untuk menghindari serangan hama dan jamur, ada baiknya tanaman ini diperiksa setiap hari. Bila ada jamur, Muridun biasanya melakukan penyemprotan menggunakan sabun yang dicampur dengan air. n

Read more

Sedapnya laba budidaya daun bawang


Daun bawang  (Allium fistulosum L. N) termasuk jenis sayuran yang populer di negeri ini. Kegunaannya banyak dipakai sebagai bahan pelengkap sebuah masakan. Di samping itu, daun bawang juga sering dipakai buat pengobatan suatu penyakit. Dari segi kesehatan, jenis sayuran dari kelompok bawang ini dipercaya mampu peningkatan kesehatan kulit, rambut, dan pencernaan.
Karena kegunaannya tersebut, permintaan daun bawang di masyarakat terus meningkat. Salah satu petani yang menekuni usaha budidaya daun bawang adalah Paulus Wiliam di Minahasa Selatan, Sulawesi Utara.

Ia sudah menanam daun bawang sejak tahun 2009 lalu. Paulus membudidayakan daun bawang di lahan seluas dua hektare (ha). Lahan pertanian ini memang cocok buat  mengembangkan sayuran karena berada di daerah dataran tinggi, yakni 900 meter di atas permukaan laut.

Dari lahan dua ha tersebut, yang ditanamai daun bawang hanya 0,5 ha. Selebihnya ditanami sayuran lain. Paulus mengaku tertarik menanam daun bawang karena permintaannya tinggi. Selain itu, panen daun bawang juga cepat. Tanaman ini sudah bisa dipanen dalam waktu 2,5 bulan sejak ditanam.
Kata Paulus, lahan 0,5 ha itu bisa menghasilkan 5 ton daun bawang sekali panen. "Jika tidak ada hama bisa sampai 6,5 ton," katanya. Karena permintaannya tinggi, ia mengaku hasil panennya selalu habis diserap pasar. Paulus menjual daun bawang per bal. Satu bal terdiri dari 10 ikat yang dihargai Rp 12.000.

Sekali panen ia bisa mengantongi omzet Rp 25 juta. Selain dari hasil panen sendiri, omnzet itu didapat dari jual beli daun bawang. Maklum, selain petani, Paulus juga pedagang pengumpul (pengepul). Ia memasarkan daun bawangnya ke berbagai daerah di Indonesia timur.

Petani lain yang membudidayakan tanaman ini adalah Setiawan, asal Lamongan, Jawa Timur. Ia sudah membudidayakan tanaman ini sejak 2008. Menurutnya , budidyaa daun bawang sangat mudah dan menguntungkan. "Permintaannya lumayan banyak," katanya.

Ia hanya mengembangkan daun bawang di lahan seluas 500 meter persegi (m²). Modal buat menanam daun bawang hanya habis Rp 500.000 buat membeli bibit. Biaya perawatan juga murah karena tidak memerlukan pupuk dalam jumlah banyak.

Sementara hasilnya bisa mencapai jutaan rupiah sekali panen. Dalam setahun ia bisa enam kali panen. Sekali panen bisa menghasilkan sekitar dua mobil bak terbuka, atau jika ditimbang bisa mencapai 100 kilogram (kg)–150 kg.  Setiap 1 kg dihargai hingga Rp 13.000. "Omzet setiap panen mencapai  Rp 2 juta," ujarnya.   

Rajin Memupuk

Budidaya daun bawang cukup prospektif dari segi bisnis. Paulus William, petani daun bawang asal Minahasa Selatan, Sulawesi, mengatakan, hasil panen daun bawang cukup cepat diserap pasar. Bahkan,  para tengkulak kerap datang ke kebunnya dan langsung membayar di tempat secara tunai.
Penanaman daun bawang juga tak rumit. Paulus bercerita,  proses penanaman, benih bawang daun berasal dari biji atau bisa juga dari tunas anakan (stek tunas). Paulus menggunakan stek tunas agar bisa menikmati masa panen lebih cepat dibanding benih dari bibit.

Biasanya untuk lahan sekitar 0,5 hektare (ha), Paulus memerlukan sekitar 150.000 stek yang langsung siap tanam ke lahan. Namun,  sebelumnya, lahan sudaj harus dilubangi sekitar 10 cm−30 cm.

Selanjutnya, bibit hanya tinggal diberi pupuk dan disiram. Penyiraman intens harus dilakukan pada musim kemarau. Sementara pada musim hujan, gulma yang tumbuh di lahan  juga harus disiangi. "Untuk pupuk saya pakai pupuk kandang. Pupuknya diberikan saat tanaman berusia sebulan, " kata dia memberi tips.

Serangan hama ulat biasanya datang dari Spodoptera exigua atau S. litura. Efek dari serangan ulat ini membuat hasil panen tidak bagus seperti di permukaan daun bawang menjadi banyak lubang dan tidak laku untuk dijual.

Untuk mengantisipasi itu, biasanya Paulus memberi semprotan insektisida. Sekitar umur 2,5 bulan, daun bawang sudah layak dipanen. Lahan seluas 1 ha mampu menghasilkan 100 kuintal daun bawang segar.

Setiawan, pembudidaya daun bawang lain yang  sudah membudidayakan tanaman ini selama 6 tahun, menjelaskan, tanaman ini hanya cocok di tanam di tanah dengan kadar pH 5,6–6,5 dan di ketinggian 0-400 mdpl serta suhu sekitar 25C-32C.

Jika menanam daun bawang pada musim kemarau, jarak tiap bibit diusahakan sekitar 15cmx15 cm. Sedang pada musim hujan jaraknya sekitar 20cmx15cm. Cara menanamnya juga terbilang mudah. Setiawan biasanya merendam dulu bibit dalam larutan NASA dan air, lalu ditaburkan GLIO secara merata pada umbi bibit bawang yang telah direndam.

Selanjutnya simpan selama dua hari sebelum tanam. Setelah itu seluruh bagian umbi bibit yang telah siap tanam dibenamkan ke dalam permukaan tanah. Sementara untuk perawatannya, Setiawan mengaku tidak membutuhkan banyak biaya tiap bulannya. Biasa-nya pada usia dua minggu, daun bawang mulai diberi pupuk urea secukupnya.

Lalu pada usia empat minggu, tanaman daun bawang  harus diberi pupuk urea lebih banyak dari sebelumnya. Sementara, untuk penyiraman selayaknya dilakukan rutin setiap hari, dengan jumlah air secukupnya.   
Read more

Budidaya lobster air tawar


Permintaan lobster air tawar kini kembali meningkat, setelah beberapa tahun silam sempat meredup. Tidak hanya digunakan sebagai hewan hias di akuarium, namun lobster air tawar kini juga makin dicari untuk dikonsumsi. Rasanya yang jauh lebih gurih ketimbang lobster air laut menjadi salah satu pemicunya.

Udang raksasa ini juga mengandung residu yodium lebih rendah. Jenis lobster air tawar sangat beragam, namun yang paling banyak dikembangkan di Indonesia adalah jenis lobster Cherax quadricarinatus atau dikenal dengan redclaw atau crayfish. Habitat asli hewan ini berasal dari Australia.

Permintaan lobster air tawar di dalam negeri masih  cukup besar, apalagi kini lobster air tawar sudah makin populer di kalangan para pecinta makanan laut. Emil Hardi, pembudidaya lobster air tawar asal Medan, Sumatra Utara, mengatakan, harga jual lobster air tawar lebih tinggi dibanding dengan  komoditas air tawar lain.

Saat ini harga lobster air tawar ukuran 100 gram sekitar Rp 150.000 per kilogram (kg). Emil membudidayakan lobster di lahan seluas dua hektare (ha). Menurut pria yang sudah membudidayakan lobster air tawar selama tujuh tahun ini, pada dua tahun terakhir, permintaan lobster air tawar terus meningkat.

Emil baru bisa memenuhi permintaan lobster air tawar untuk kawasan Sumatra Utara. Seminggu sekali, dia memasok lobster ke restoran, hotel, dan kafe. Dia juga bekerjasama dengan peternak lobster lain untuk memenuhi permintaan.

Panen lobster air tawar dilakukan setiap enam bulan sekali. Kolam seluas 1 meter (m) x 1 m dapat menghasilkan sekitar 1 kg lobster. Emil mengaku bisa mendapatkan hasil 2 ton lobster dalam sekali panen. Dengan harga jual Rp 150.000 per kg, ia bisa mengantongi omzet hingga Rp 50 juta per bulan dengan margin keuntungan hingga 100%.

Dia relatif tidak mengeluarkan pengeluaran untuk pakan lobster. Emil bilang, lobster yang dia budidayakan diberi pakan keong yang dia ambil dari sawah. Selain itu, sisa jeroan dan usus perut ayam yang tidak bisa dijual juga dia gunakan untuk pakan lobster. "Paling saya hanya beri pelet beberapa kali saja untuk variasi," kata Emil.

Rony Irawan, pembudidaya lobster air tawar lainnya asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mengatakan, harga jual lobster di Kalimantan berkisar Rp 135.000 per kg. Dengan memiliki lahan hampir 1 ha, Rony bisa memperoleh sekitar 1.600 kg lobster sekali panen. Omzet yang bisa dia raih sekitar Rp 35 juta per bulan.

Dengan produksi sebesar itu, Rony mengaku, sampai sekarang dia masih kesulitan memenuhi semua permintaan dari restoran dan hotel yang membeludak.             

Pakan dan Oksigen

Budidaya lobster air tawar kini semakin menjanjikan seiring terus meningkatnya permintaan di pasaran. Di Indonesia, budidaya lobster air tawar sudah mulai dikenal sejak tahun 1990-an.
Namun, saat itu baru sebatas diburu para penggemar ikan hias. Nah, belakangan ini lobster banyak dicari buat konsumsi. Tak pelak, usaha budidaya lobster air tawar pun merebak.

Terlebih iklim Indonesia juga mendukung buat budidaya lobster ini. Di negara asalnya, Australia, lobster ini hanya panen sekali setahun. Sedangkan di Indonesia bisa dua kali setahun. Negara beriklim tropis seperti Indonesia cocok buat lobster  ini karena tidak mengenal musim dingin.
Emil Hardi, pembudidaya lobster air tawar dari Medan,  mengaku, awalnya hanya budidaya dalam skala rumah tangga saja. Namun, budidaya skala kecil tidak ekonomis karena biaya operasionalnya menjadi besar.

Mempertimbangkan itu, ia pun membesarkan skala usahanya. Ditambah permintaan lobster ini terus meningkat. Saat ini, Emil membudidayakan lobster air tawar di lahan seluas 2 hektare (ha).
Menurutnya, budidaya lobster harus di kolam tanah, bukan di plastik. "Lobster ini suka di bebatuan dan lumpur," ujarnya. Menurutnya, tanah merupakan habitat asli lobster ini. Sebenarnya bisa saja di kolam plastik, tapi pertumbuhannya lebih lambat.

Dari sejak pembibitan hingga panen dibutuhkan waktu enam bulan. Memang dibutuhkan waktu agak lama untuk pembesaran. Untuk mendapatkan hasil maksimal, idealnya setiap satu meter lahan kolam menampung sekitar 10 ekor lobster.

Tujuannya agar lobster tidak terlalu sesak. Selain itu, untuk pembesaran pilih lobster jantan saja, karena lebih cepat tumbuhnya dibandingkan betina. Nah, untuk perawatannya sebenarnya mudah. Dengan kapasitas produksi 10 ton sekali panen, ia mengaku hanya mengeluarkan sedikit biaya buat pakan dan perawatan.

Untuk pakan diberikan pagi dan sore hari. Sebaiknya jangan berikan pakan berlebihan agar lobster tumbuh sempurna dan bongsor.  Selain itu, penting diperhatikan suplai oksigen dengan menambahkan pompa yang berfungsi menjaga keasaman air.

Rony Irawan, pembudidaya   asal Banjarmasin, Kalimantan Timur menambahkan,  lobster air tawar butuh kandungan oksigen terlarut berukuran di atas 4 parts per million (ppm). Sementara, suhu air sekitar  25 derajat-29 derajat Celcius. Kadar oksigen dan suhu air harus diperhatikan karena mempengaruhi daya tahan lobster.

Derajat keasaman (pH) juga mempengaruhi tumbuh kembang lobster. Lobster ini biasanya hidup di perairan dengan pH di kisaran tujuh sampai sembilan.    
Read more

Kisah Manis dibalik Pedasnya Cabai

Seperti tanaman lainnya, cabai juga mempunyai banyak varian. Salah satu varian cabai yang kini sedang ramai dibicarakan adalah cabai warna-warni atau cabai pelangi. Cabai dengan nama asli bolivian rainbow ini berasal dari Amerika Selatan. Bentuknya seperti cabai rawit besar. Rasanya juga pedas dan bisa untuk teman menyantap gorengan.

Namun, di Indonesia, cabai pelangi lebih banyak dijadikan tanaman h
ias. Bibit cabai ini banyak dijual di jagad online karena permintaannya memang tinggi. Salah seorang pembudidaya sekaligus pedagang bibit cabai pelangi adalah Bayu Tedja Perdana di Balikpapan, Kalimantan Timur. Ia sudah dua tahun menekuni usaha ini.

Awalnya, ia membeli benih dari Negeri Paman Sam dan membudidayakannya. Hingga saat ini, dia mempunyai sekitar 250 pohon cabai yang terdiri dari 100 jenis varian. Beberapa di antaranya adalah bolivia rainbow, cabaca roxa, dan white devil tongu’e.

Laki-laki yang kerap disapa Bayu ini membudidayakan cabai di lahan seluas 700 meter persegi (m²). “Sebenarnya tanaman ini sudah pernah populer dua tahun lalu, tapi hanya di kalangan komunitas cabai hias,” katanya.

Karena sekarang sedang naik daun lagi, Bayu mulai gencar menjual tanaman yang identik dengan rasa pedas ini. Dia membanderol harga benih cabai pelangi mulai Rp 10.000 yang terdiri dari enam biji cabai, dan Rp 12.000 untuk 12 biji cabai.

Dalam seminggu dia menerima 10 hingga 20 pesanan dari seluruh wilayah Indonesia. Dalam sebulan dia bisa mendapat omzet Rp 1 juta hingga Rp 2 juta. Meski omzetnya masih kecil, laba bersih yang didapatnya besar, yakni sekitar 80% dari omzet.

Keuntungannya besar karena benih yang dijual hanya berupa biji. Nah, dalam satu buah memiliki biji dalam jumlah cukup banyak. Hingga saat ini, Bayu tidak melayani permintaan pohon cabai pelangi karena rusak bila dikirim dalam jarak jauh.  

Pembudidaya lainnya adalah Reza di Semarang, Jawa Tengah. Ia sudah hampir setahun membudidayakan cabai pelangi. Menurutnya, tidak ada perbedaan rasa cabai pelangi dengan cabai lainnya.  "Rasanya bahkan agak lebih pedas dari cabe merah biasa," kata Reza.

Kendati bisa dikonsumsi layaknya cabai pada umumnya, kebanyakan orang membeli tanaman cabai ini bukan buat dikonsumsi. Tapi buat tanaman hias. Saat ini, Reza mengelola lahan seluas 2 m x 6 m untuk membudidayakan cabai rainbow. Dari lahan tersebut, ia menghasilkan 1.000–2.000 butir cabai setiap panennya.

Reza menjual biji cabai yang sudah dikemas. Satu paketnya berisi 10 biji–50 biji cabai, dengan harga Rp 20.000-Rp 30.000 per paket. Reza mengaku, bisa meraup omzet Rp 5 juta per bulan.

Warna yang dihasilkan cabai pelangi cukup unik karena menghasilkan berbagai macam warna mulai dari merah, jingga, ungu, dan lainnya. Asal tahu saja, efek warna bak pelangi ini dihasilkan dari proses pematangan cabai yang tidak bersamaan.

Keunikan ini membuat cabai pelangi menjadi popular di kalangan pencinta tanaman. Saat ini pun, tanaman ini sudah banyak menghiasi halaman rumah. Membudidayakan tanaman ini terbilang mudah dan sederhana.

Bayu Tedja Perdana, pembudidaya cabai pelangi asal Balikpapan menjelaskan, tanaman ini bisa tumbuh dari biji dengan cara disemai. Tahap awal adalah proses penyemaian biji dalam gelas plastik yang berisi dua hingga empat biji cabai.

Setelah batang dan daunnya tumbuh berjumlah empat hingga enam lembar, ada baiknya tanaman segera dipindahkan ketempat yang lebih besar. Tujuannya agar  tanaman bisa tumbuh dengan maksimal. Untuk media tanam dapat menggunakan campuran tanah, pupuk organik dari kotoran kambing, dan sekam bakar dengan komposisi 30:30:40.

Untuk perawatannya cukup mudah, tanaman ini hanya butuh disiram bila udara sedang terik. Jangan sampai tanah terlalu banyak air nanti bisa busuk dan mati. "Cabai pelangi sudah bisa dikonsumsi setelah berusia 3,5 bulan,” katanya pada KONTAN.

Sementara menurut Reza, pembudidaya cabai pelangi lainnya, menambahkan, media tanam perlu ditambah kompos, pupuk dan sekam yang dicampur rata serta disiram untuk perawatannya. Reza memilih tray sebagai media tanam cabai pelangi. "Tray ini bisa dibeli di toko pertanian yang menjual perlengkapan dan perawatan untuk bercocok tanam," kata Reza.

Setelah empat minggu maka akan tumbuh tunas-tunas cabai pelangi sudah mulai terlihat sedikit besar. Saat itulah perawatan dimulai dengan cara pemupukan. Untuk pupuk, Reza menggunakan pupuk NPK agar akar cabai pelangi kuat.

Akan tetapi, pemupukan tidak dapat dilakukan sesering mungkin, hanya setiap tiga minggu sekali. Jenis pupuk lainnya yang dipakai oleh Reza adalah AB Mix. "Ini digunakan agar hasil buahnya banyak," jelas Reza.

Biaya untuk perawatannya pun tidak mahal. Reza hanya perlu merogoh kocek sekitar 10% dari omzet, yaitu sekitar Rp 200.000 sampai

Rp 500.000 per bulan untuk membiayai perawatan cabai warna-warni ini.
Reza mengingatkan, hal yang harus diperhatikan agar tidak terjadi gagal panen adalah kondisi tanah harus tetap lembab. Jangan sampai lahan tanam terlalu kering dan jangan pula tanah dalam kondisi sangat basah.

Read more

Wirapedia

Wirapedia adalah blog yang mempromosikan UKM di Solo dan sekitarnya.

youtube

 

Blogger news

Blogroll

About